PERINGATAN 3 MARET
(KONDURE ROMO HERUCOKRO SEMONO ING KALANGGENGAN)
(WAFATNYA ROMO M. SEMONO SASTROHADIDJOJO)
Tulisan ini didasarkan pada pengalaman 21 tahun (3 Maret 1982 – 3 Maret 2003). Yaitu sejak 1 tahun peringatan wafatnya Romo Semono sampai sekarang, yang oleh Putro Putro Jakarta selalu diperingati. Dan karena itu pula maka dalam tanggalan yang diterbitkan oleh Kapribaden, 3 Maret termasuk hari penting (warna ungu), seperti malem Senen Pahing, malem Jumat Pahing dan lain-lain.
Kita semua nderek Romo, dan berusaha untuk bisa menjadi Putro ROMO, karena tertarik pada laku yang diberikan Romo Semono, yaitu Laku Kasampurnan Manunggal kinanthenan Sarwo Mijil. Jadi laku-nya manusia yang nggayuh kasampurnan (jati). Melalui mencapai kasampurnaning wong urip, menuju ke manunggal dengan URIP Kang Ngalimpudhi jagad royo saisine, Gusti ingkang Moho Suci, Tuhan Yang Maha Esa, God Almighty. Rogo segera lebur menjadi unsur unsur bumi, banyu, howo lan geni. Dengan istilah lain, mokhsa.
Karena itu, maka semua Putro sangat meyakini, bahwa Romo Herucokro Semono, yang semasa hidup saja sudah bisa manunggal dengan Moho Suci, maka begitu wafat (3 Maret 1981), pasta-pasti Herucokro langsung manunggal jati dengan Moho Suci, rogo Semono lebur kembali menjadi atom atom bumi, banyu, hawa lan geni. Kalau tidak yakin akan hal ini, maka tidak ada gunanya seseorang menjalani laku sebagai Putro. Untuk apa menjadi Putro, kalau Romo Herucokro Semono saja wafat tidak bisa sempurno? Renungkan hal ini.
Jadi kalau seseorang mengaku Putro ROMO, tetapi berbuat seolah-olah arwah Romo Semono itu gentayangan dan bisa nyurupi, nglenggahi raganya Putro, kok kebangeten banget olehe ngrusak asmane Romo Semono. Demikian juga yang menganggap arwah Romo Semono nunggoni kuburan di Kalinongko, Purworejo, sama saja. Lalu untuk apa menjadi Putro?
Karena itu semua, dalam memperingati 3 Maret, kita sama sekali tidak pernah mendoakan Romo Herucokro Semono. Yang kita lakukan adalah mengenang keluhuran, cinta-kasih, pengorbanan beliau bagi kita semua. Juga kita kenang, bagaimana seorang manusia M. Semono begitu teguh, kukuh, ulet, dalam mengemban tugas suci dari Moho Suci.
Kita kenang sejak Romo Semono Mijil pertama kali, hari Minggu Legi malem Senen Pahing, bertepatan dengan tanggal 13 malem 14 November 1955, sampai beliau wafat tanggal 3 Maret 1981. 25 tahun lebih.
Citra seorang Abdhi Sejati seperti Ki Lurah Semar, selama 25 tahun lebih ngladeni siapa saja yang memerlukan mendapat pepadang. Baik dari pepeteng karena menderita sakit, kesulitan hidup, sampai kepada mereka yang mendapat pepeteng atau menghadapi jalan buntu dalam menempuh jalan untuk menemukan Tuhannya.
Semua diladeni, tanpa pilih-kasih dalam bentuk dan dengan cara apapun. Beliau tidak pemah menanya seseorang, apa sukunya, apa bangsanya, apa agamanya, semua dilayani sama.
Dari pagi buta sampai pagi buta lagi, atau dari malam sampai malam lagi, dari siang sampai siang lagi, tanpa henti-hentinya, beliau ngladeni semua orang. Tua, muda, laki-laki, perempuan, kaya miskin, berpangkat atau rakyat jelata, semua diterima dan diperlakukan sama. Bahkan mereka yang berniat tidak baikpun dilayani dengan baik. Dituduh yang bukan-bukan, sampai beliau dimasukkan penjara, beliau jalani dengan ikhlas. Tidak pemah beliau menjelek-jelekkan orang orang yang menggunakan kekuasaan lahiriah semena-mena untuk mencelakai beliau. Sampai dilarang menerima tamu, beliau turuti. Lalu beliau mengutus seorang Putro untuk mengurus sesuai jalur hukum, sampai semua beres, beliau sabar menunggu.
Gambaran tentang Kekudangan Romo marang Putra-Putrane, benar-benar menggambarkan manusia manusia seperti apa yang beliau harapkan dari kita semua, disertai usaha beliau nggembleng Putro Putro selama 25 tahun lebih.
Melalui peringatan 3 Maret ini, marilah kita memawas-diri (mawas-diri).
Apakah usaha Romo Herucokro Semono selama 25 tahun itu berhasil, atau sia-sia? Apakah kita sudah cukup berusaha memenuhi kehendak Romo?
Sudah seberapa jauh diri kita berubah. Sejak sebelum menjadi Putro sampai sekarang.
Manusia itu memang pada garis besarnya terdiri dari Rogo dan Urip. Tetapi yang disebut Rogo itu sebenamya ada 2 macam. Rogo katon (kasar) lan Rogo daten katon (alus).
Rogo alus itu yang secara umum disebut Sang AKU (Ego)
Sebelum kita menjadi Putro, Urip sama sekali tidak berperan, dia hanya mengawasi dan mengikuti. Yang berperan hanya AKU dan Rogo kasar.
Rogo kasar dibentuk dan dibesarkan melalui konsumsi materi, yaitu makan (tanah), minum (air), bernafas (hawa) dan energy / sinar matahari (api). Dan memiliki kekuatan berupa nafsu nafsu hayati dan naluri naluri hewani.
Rogo alus dibentuk dan dibesarkan melalui pendidikan, pengalaman, pengembangan akal-pikiran, masukan masukan berupa ajaran ajaran tentang baik-buruk benar-salah (santapan rokhani). Rogo alus alias Sang AKU dipupuk dan disuburkan oleh keberhasilan keberhasilan dalam bidang derajat, pangkat, semat, donya-brana dan semacamnya. Kadang-kadang layu kalau kekurangan pupuk itu alias mengalami kegagalan.
Rogo alus itu dengan segala "catatan" yang dimiliki, yang mengatur dan memerintah Rogo kasar untuk berbuat. Bahkan sering keduanya bekerjasama. Sifat sifat Rogo Alus alias Sang AKU didukung nafsu nafsu dan naluri kebinatangan yang dimiliki Rogo kasar, bersama melakukan perbuatan tertentu.
Itu sebelum kita menjadi Putro.
Begitu menjadi Putro, kita berjanji, bersumpah, kepada diri sendiri, akan nyungsang bawana balik. Rogo alus dan rogo kasar dengan segala kemampuannya, akan 100% mengabdi kepada Urip.
Dalam kesempatan menjelang Peringatan 3 Maret, kita gunakan untuk menilai diri sendiri, sudah seberapa jauh kita berubah. Dari orang biasa, lalu setelah sekian lama menjadi Putro.
Bagi para kadhang pria (satriyo sejati), bertanya kepada istrinya. Bagi kadhang wanita (wanito sejati), bertanya kepada suami.
Standarnya atau tolok ukurnya, 3 kekudhangan Romo.
Misalnya begini:
Suami (sekarang mengaku sudah menjadi Putro ROMO, Putronya Moho Suci):
"Dik atau Jeng atau Mamma, coba kamu nilai. Tingkah-laku dan perbuatanku, dalam pandanganmu, waktu kita masih pacaran, sama sekarang lebih baik mana?"
Istri : "…………………………………………." (ini kita pakai untuk mengukur diri kita dalam usaha mewujudkan kekudhangan nomor dua).
Suami: "Dik, Jeng, Mamma, menurutmu sekarang ini aku lebih suka menolong atau tidak, dibandingkan waktu kita pacaran. Juga menurutmu antara dulu dan sekarang, mana aku lebih menepati janji?"
Jawaban istri untuk mengukur sejauh mana kita mewujudkan kekudhangan ketiga,
yaitu berbudi bowo leksono. ..
Begitu juga sebaliknya bagi kadhang wanita dalam menanya suaminya.
Hasil penelitian kita masing-masing itu bisa dijadikan ukuran diri kita. Jadi sesudah menjadi Putro ROMO, kita jadi orang yang lebih baik atau belum. Jangan-jangan malah jadi lebih jelek.
Kalau kita tidak menjadi lebih baik, lalu kita cari di mana letak kesalahan dan kelemahan kita. Mungkin Sang AKU malah jadi lebih kuat, lebih sakti, sehingga makin menguasai diri kita. Padahal menjadi Putro adalah usaha menipiskan AKU-nya masing-masing setiap hari tanpa henti.
Selain itu, marilah kita ukur diri sendiri.
Apakah diri kita tetap masih besar keinginan kita agar dihormati sesama (kadhang). Jadi nafsu kita masih kuat sekali. Apakah kita merasa secara spiritual lebih dari sesama kadhang? Kalau ya, berarti kita keplesed, dan tinggal menunggu saat kecemplung jurang (saya hanya meminjam istilah Romo Semono). Apakah kita masih sering curiga kepada orang lain, khususnya kadhang? Apakah kita masih mudah percaya begitu saja omongan kadhang tanpa bukti (gampang percoyo jare)?
Padahal Romo Semono mengajari kita: "ojo percoyo jare". Apakah kita masih sulit melangkah mewujudkan guyub-rukun seluruh Putro, karena terhalang oleh ke-AKU-an kita? Padahal ROMO sampai mensabdakan Sabdha Guyub-Rukun. Apakah kita sudah cukup peduli pada Paguyuban kita? Paguyuban ada karena dawuh Romo.
Nah jangan-jangan kita jadi manusia berkepribadian ganda, alias mengalami penyimpangan jiwa. Di satu sisi memuja-muja Romo, tetapi di sisi lain kita lecehkan, kita cuekin segala wulang-wuruk, sabdho sabdho dan dawuh dawuh Romo, dan hanya berpegang pada becike dewe lan benere dewe.
Apakah kita sudah berusaha tresno welas asih marang opo lan sopo wae, setiap saat, terutama kepada kadhang kadhangnya sendiri? Padahal menurut Romo: "Tandane Putro lakune wis adoh yen ojo maneh kang sipat jalmo manungso, sanajan kewan tetuwuhan pisan podo tresno marang jeneng siro."
Demikian uraian yang bisa disampaikan, tentang bagaimana kita mengisi Peringatan 3 Maret. Tentu saja silahkan dikembangkan sendiri, sesuai situasi dan kondisi di daerah masing-masing, Harapan kita, dan semoga sesuai kenyataan, setelah menilai diri masing-masing, para kadhang di manapun mendapat nilai positif dari isteri / suami masing-masing, dan dalam berusaha mewujudkan kekudhangan Romo, melaksanakan wulang-wuruk, sabdho sabdho dan dawuh dawuh, sudah mencapai 60% atau lebih. Jadi kalau anak sekolah bisa lulus.
Akhirnya pemuji rahayu dan semoga kita semua kaparingan kekuatan luar biasa, untuk bisa menghadapi berbagai godaan dan cobaan yang berusaha menyeret kita kembali menjadi orang yang bukan putro.
{ Ditulis oleh Dr. Wahyono Raharjo GSW., MBA. pada Maret 2003.
Dibacakan kembali pada Peringatan 33 tahun Wafatnya Romo M. Semono Sastrohadidjojo, Maret 2014,
Oleh Pengurus Pusat Paguyuban Penghayat Kapribaden }.